KEBANGKITAN MANDAR ABAD XVI-XVII

Abd Rahman Hamid

Abstract


Artikel ini menjelaskan kebangkitan Mandar abad XVI-XVII dengan tiga fokus, yaitu faktor-faktor pendukung, dinamika, dan eksistensinya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah. Bahannya adalah sumber-sumber lokal yang dipadu dengan bahan pustaka yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebangkitannya ditunjang oleh faktor kekerabatan dan hubungan Mandar dengan Makassar. Dalam prosesnya memperlihatkan dua pola: Pertama, pola penyatuan pedalaman dan pesisir dari masa awal sampai terbentuk konfederasi Mandar (Pitu Babana Binanga dan Pitu Ulunna Salu); kedua, pola sekutu dan seteru dalam hubungan antarkerajaan di Mandar, hubungan dengan Makassar, Belanda, dan Bone. Persekutuan antara unit-unit politik kecil (tomakaka) dan kerajaan merupakan respon terhadap tantangan yang datang dari luar. Pihak yang menang (Balanipa, Sendana, Banggae, Pamboang, Mamuju, Tapalang, dan Binuang) menentukan nasib pihak yang kalah (Passokkorang). Karena faktor ikatan kerabat, rakyat dari pihak yang kalah dapat diterima oleh pihak yang menang. Ini menunjukkan bahwa faktor kultural lebih efektif menjaga kelanjutan hubungan antarkelompok dan kerajaan. Wilayah konfederasi Mandar dijadikan batas Provinsi Sulawesi Barat pada 2004.


Keywords


sejarah Mandar; kekerabatan; persekutuan; perseteruan; kekuasaan

References


Sumber lokal yang diterbitkan

Disporabudpar. 2010. Lontar Mandar. Majene: Disporabudpar.

Chambert-Loir, H., and S.M.R. Salahuddin. 1999. Bo’Sangaji Kai: Catatan Kerajaan Bima. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kamaruddin. 1986. Lontarak Bilang Raja Gowa Dan Tallok. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Manyambeang, A.K., and A.R. Mone. 1979. Lontarak Patturioloang Tutalloka. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Rahim, A., and and R. Borahima. 1974. Sejarah Kerajaan Tallo’: Suatu Transkripsi Lontara’. Ujung Pandang: Kantor Cabang II Lembaga Sejarah dan Antropologi.

Sinrang, A.S. 2000. Lontara Pamboang. Majene: Tanpa Penerbit.

Syah, M.T.A. 1993. Lontarak Pattodioloang Di Mandar (Jilid 2). Ujung Pandang: Taruna Remaja.

Wolhoff, G. J., and Abdurrahim. 1956. Sedjarah Gowa. Makassar: Jajasan Kebudajaan Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Yasil, S., and at all. 1984. Lontara Pattappingang. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber asing yang tidak diterbitkan

Leyds, W.J. 1940. “Memorie van Overgave Assistent van Mandar.” Leiden: KITLV.

Sumber asing yang diterbitkan

Amin, E., and C. Skinner. 2008. Syair Perang Mengkasar. Makassar: Ininnawa.

Pires, Tomé. 1944. The Suma Oriental and the Book of Francisco Rodrigues, Edited and Translated by Armando Cortesão. London: the Hakluyt Society.

Jurnal dan Disertasi

Bahtiar. 2016. “Hubungan Bone Dengan Mandar: Dari Sekutu Menjadi Seteru.” Walasuji 7 (2): 417–32.

Hamid, Abd Rahman. 2018. “Dari Paku Sampai Suremana: Sejarah Batas Selatan Dan Utara Mandar.” Pangadereng 4: 1–12.

Ligtvoet, Albertus. 1878. “Beschrijving En Geschiedenis van Boeton.” BKI 26: 1–112.

Rahman, D.M. 1988. “Puang Dan Daeng: Kajian Sistem Nilai Budaya Orang Balanipa-Mandar.” Makassar: Universitas Hasanuddin.

Sjafruddin, A. 1989. “Perjanjian Antarkerajaan Menurut Lontarak: Mengungkap Salah Satu Aspek Dalam Sejarah Hukum Adat Abad XV-XVIII Di Sulawesi Selatan.” Makassar: Universitas Hasanuddin.

Buku

Amir, M., and Sahajuddin. 2011. Konfederasi Mandar: Kajian Sejarah Persekutuan Antar Kerajaan Di Sulawesi Barat. Makassar: Dian Istana.

Andaya, L.Y. 2004. Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17, Diterjemahkan Oleh N. Sirimorok. Makassar: Ininnawa.

Buijs, Kees. 2009. Kuasa Berkat Dari Belantara Dan Langit: Struktur Dan Transformasi Orang Toraja Di Mamasa Sulawesi Barat, Diterjemahkan Oleh R. Arulangi. Makassar: Ininnawa.

Cummings, William P. 2015. Penciptaan Sejarah Makassar Di Awal Era Modern, Diterjemahkan Oleh W. Jusuf. Yogyakarta: Yogyakarta: Ombak.

Depdikbud. 1997. Sejarah Daerah Sulawesi Tengah. Palu: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Hamid, Abd. Rahman. 2008. Jejak Arung Palakka Di Negeri Buton. Makassar: Pustaka Refleksi.

Hamid, Abd Rahman, and M. Saleh Madjid. 2011. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Heng, L. S. 1990. “Collecting Centres, Feeder Points and Entrepot.” In The Southeast Asian Port and Polity: Rise and Demise, edited by J and J. Villers K-Wels, 17–38. Singapore: Singapore University Press.

Kruyt, A.C. 1938. De West-Toradjas Op Midden-Celebes Deel I. Amsterdam: Uitgevers-Maatchappij.

Mahmud, M.I., and At All. 2019. Kebudayaan Kalumpang Sulawesi Barat 3800 BP-400 AD. Makassar: Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.

Mandra, A.M. 1987. Beberapa Perjanjian Dan Hukum Tradisi Mandar. Majene: Yayasan Saq-adawang.

Mattulada. 2011. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah. Yogyakarta: Ombak.

Nurjanah, and Ahmad. 2007. Sejarah Kebudayaan Mandar Jilid 1. Majene: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Patunru, A.R.D. 1983. Sejarah Gowa. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan.

Poelinggomang, E. L. 2012. Sejarah Dan Budaya Sulawesi Barat. Makassar: De Lamacca.

Reid, Anthony. 2004. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Diterjemahkan Oleh S. Siregar Dkk. Jakarta: LP3ES.

Saharuddin. 1985. Mengenal Pitu Babana Binanga Mandar Dalam Lintasan Sejarah Pemerintahan Daerah Di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Mallomo Karya.

Sewang, Ahmad M. 2012. Kebangkitan Rahasia Islam Muda (KRIS MUDA): Studi Tentang Peran Islam Dalam Kelasykaran Di Sulawesi Barat. Makassar: Alauddin University Press.

Stapel, Frederik Willem. 1922. Het Bongaais Verdrag. JB Wolter’s uitgevers-maatschappij.

Syah, M.T.A. 1980. Ceritera I Muttia Di Pa’sokkoran Litaq Mandar. Ujung Pandang: BPSB.

Zuhdi, Susanto. 2018. Sejarah Buton Yang Terabaikan. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.




DOI: https://doi.org/10.36869/pjhpish.v8i1.220

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora

 

 

 

 

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Atribution 4.0 International.