USAHA PERKEBUNAN GAMBIR DI KEPULAUAN RIAU PADA ABAD KE-19

dedi - arman

Abstract


Gambir merupakan salah satu komoditas ekspor terpenting dari Kepulauan Riau pada masa kolonial Belanda. Namun, dalam perkembangannya, gambir seakan menghilang dan hanya tersisa di Kabupaten Lingga dan Kabupaten Karimun. Penelitian ini menarik di tengah upaya pemerintah menggairahkan kembali jalur rempah di wilayah nusantara. Artikel ini bertujuan mengkaji usaha perkebunan gambir di Kepulauan Riau pada abad ke-19. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang dalam pengumpulan sumber menggunakan studi pustaka dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit gambir didatangkan dari Sumatra. Perkebunan gambir di Kepulauan Riau berbeda dengan
daerah lainnya, baik kepemilikan maupun tata cara pengolahan. Gambir dipasarkan ke Singapura, Pulau Jawa, dan Siam. Keberadaan usaha perkebunan gambir membawa dampak sosial ekonomi. Gambir memberikan pemasukan bagi Kerajaan Riau Lingga dan pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, ribuan pekerja gambir dari etnik Teochew (Tiociu) didatangkan dari Cina dan menjadi cikal-bakal
keberadaan orang Tionghoadi Kepulauan Riau. Pada akhir abad ke-19, usaha perkebunan gambir mengalami kemunduran. Penyebabnya, permintaan gambir di pasar internasional menurun. Usaha gambir makin sulit karena makin menipisnya cadangan kayu untuk pengolahan dampak kerusakan hutan yang parah.


Keywords


usaha perkebunan; gambir; Kepulauan Riau

References


ANRI. 1970. Surat-Surat Perdjandjian antara Kesultanan Riau dengan VOC dan Pemerintah Hindia Belanda 19784-1909. Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia.

Arman, D. 2019. Gambir yang Hilang di Kepulauan Riau. Tanjung Pinang: Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri.

Asnan, G. 2007. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta: Ombak

Dahlan, Ahmad. 2017. Sejarah Melayu. Jakarta: Gramedia.

Gottschalk, Louis. 1985. Mengerti Sejarah. Jakarta: UI Press.

Gusti, Asnan. 2017. “Jaringan Pelayaran Dan Perdagangan Rempah Di Pulau Sumatera.” Makassar.

Henley, David. 1997. Paper Landscapes Exploration in the Enviromental History of Indonesia. London: KITLV Press.

Hooker, Virginia Matheson. 1991. Tuhfat Al Nafis. Kualalumpur: Yayasan Karyawan dan Dewan Bahasa dan Pustaka.

Koestoro, Lucas Partanda. 2011. “Jejak Kegiatan Perekonomian Masa Lalu Sebagai Potensi Sumber Daya Arkeologi Pulau Lingga.” Sangkhakala XIV.

Lauts, Gerard. 1837. Onderzoek Naar Geest En Strekking van Het Traktaat van Den 17 Den Maart 1824, over Handel En Ruiling van Grondgebeid in Indie, Gesloten Tusschen Wederland En Groot-Britanje.

Marsden, Wiliam. 2013. Sejarah Sumatra. Jakarta: Komunitas Bambu.

Putri, Selfi Mahat. 2013. “Usaha Gambir Rakyat Di Lima Puluh Kota, Sumatera Barat 1833-1930.” Jurnal Lembaran Sejarah 10(2):159.

Trocki, Carl A. 1976. “The Origins of the Kangchu System 1740-1860.” Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society 49(2):135–36.

Internet

Syahri, Aswandi. 2013. “Raja Ali Kelana Dan Pondasi Historis Industri Pulau Batam 1896-1910.” Http://Www.Tanjungpinangpos.Co.Id/Raja-Ali-Kelana-Dan-Fondasi-Historis-Industri-Pulau-Batam-1896-1910/8.

(https://dokumen.tips/documents/epaper-tanjungpinangpos-6-juni- 2014.html).

jantungmelayu.com,5 Agustus 2019.

(http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkepri/mong-sung-bangsal-usaha-gambir-berusia-40-tahun-di-lingga/).

Wawancara

Mok Ciukeng (84) di 26 Maret 2020 di Lingga.




DOI: https://doi.org/10.36869/pjhpish.v8i1.227

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2022 Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora

 

 

 

 

 

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Atribution 4.0 International.